MANUNGGALING KAWULA GUSTI SYEKH SITI JENAR MENURUT SYEKH Dr. YEDI SUPRIAD

Rp. 585.000

Penulis : Dr. Yedi Supriadi, M. Pd

ISBN : Dalam Proses

Cover : Hard Cover

Halaman : 736 Halaman

Berat : 336 gr

Ukuran : 20 x 14.5 cm

Selama berabad-abad, nama Syekh Siti Jenar selalu berada di antara dua penilaian yang bertolak belakang: dipuja sebagai seorang wali yang mencapai puncak makrifat, sekaligus dicela sebagai sosok yang dianggap mengaku dirinya Tuhan. Akibatnya, yang sering diperdebatkan bukanlah ajaran Syekh Siti Jenar yang asli, melainkan bayangan yang dibentuk oleh sejarah. Buku ini tidak ditulis untuk mengkultuskan Syekh Siti Jenar tetapi untuk mengembalikan sebuah ajaran pada tempatnya yang paling jernih. Kesalahan terbesar publik dalam memahami Manunggaling Kawula Gusti adalah menyangkanya sebagai Hulul atau Ittihad. Padahal dalam seluruh suluk Syekh Siti Jenar, tidak pernah ada satu kalimat pun yang menyatakan demikian.

Yang diajarkan Syekh Siti Jenar adalah Wujudiyah dalam makna yang paling lurus: Al-Khalqu dzahir, wal-Haqqu bathin. Khalq adalah dzahir, dan Haq adalah bathin. Artinya yang memiliki wujud hakiki hanyalah Gusti Allah. Kita, manusia, alam semesta, bahkan amal ibadah kita sendiri, hanyalah bayangan, hanyalah hijab, hanyalah curiga yang berada di dalam warangka. Tanpa Wujud Mutlak-Nya, kita tidak pernah maujud. Kita ada karena Diadakan. Manunggal itu adalah kesadaran ma’rifat bahwa sejak awal memang hanya ada Satu Wujud. Kesadaran inilah yang tidak bisa dicapai hanya dengan membaca kitab. Ia harus dilalui dengan laku. Ketika seorang hamba telah berhasil melakukan mati sakjroning urip, mematikan empat nafsu yang mengotori: amarah, aluamah, sufiah, dan mutmainnah – maka yang tersisa hanyalah Dzat Urip itu sendiri. Inilah yang disebut dalam Sasahidan: “Ingsun anakseni ing Dzat Ingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran amung Ingsun.” Itu bukan pengakuan Siti Jenar sebagai Tuhan. Itu adalah Firman Allah yang bersaksi atas Dzat-Nya sendiri melalui lisan hamba-Nya yang telah fana, yang telah kosong dari kepentingan dirinya